TPA: Memahami Perbedaan Sanitary Landfill dan Open Dumping

Ke Mana Sampah Kita Pergi
Setiap hari, truk sampah mengangkut sampah dari permukiman, pasar, dan kawasan usaha ke tempat pemrosesan akhir atau TPA. Bagi kebanyakan orang, perjalanan sampah berakhir ketika truk meninggalkan lingkungan. Padahal, di TPA, sampah terus menimbulkan dampak selama bertahun-tahun.
Cara sampah ditangani di TPA sangat menentukan besarnya dampak tersebut. Ada perbedaan besar antara TPA yang dikelola dengan sistem penimbunan terkendali dan TPA yang hanya menjadi tempat pembuangan terbuka.
Open Dumping
Open dumping atau pembuangan terbuka adalah cara paling sederhana, yaitu sampah dibuang dan ditumpuk di lahan terbuka tanpa lapisan pelindung, tanpa penutupan rutin, dan tanpa pengelolaan cairan maupun gas. Cara ini murah, tetapi menimbulkan banyak masalah:
- Air lindi meresap ke tanah dan mencemari air tanah serta sungai.
- Gas metana terlepas ke udara dan dapat memicu kebakaran.
- Bau, lalat, dan tikus mengganggu warga sekitar.
- Tumpukan sampah dapat longsor.
- Sampah ringan seperti plastik terbawa angin dan air.
Peraturan pengelolaan sampah di Indonesia telah mengamanatkan agar praktik pembuangan terbuka ditinggalkan, tetapi di sejumlah daerah peralihan masih berlangsung.
Controlled Landfill
Controlled landfill atau penimbunan terkendali adalah tahap peralihan. Sampah ditimbun di area tertentu, dipadatkan, dan ditutup tanah secara berkala, misalnya setiap beberapa hari. Sistem ini mulai mengurangi bau, lalat, dan risiko kebakaran, meskipun pengelolaan lindi dan gas belum selengkap sanitary landfill.
Sanitary Landfill
Sanitary landfill adalah sistem penimbunan yang dirancang dengan teknik tertentu untuk meminimalkan dampak lingkungan. Ciri-cirinya antara lain:
- Dasar timbunan dilapisi bahan kedap untuk mencegah lindi meresap ke tanah.
- Ada sistem pengumpulan dan pengolahan lindi.
- Sampah dipadatkan dan ditutup tanah setiap hari.
- Ada sistem pengumpulan gas metana, yang dapat dibakar atau dimanfaatkan sebagai energi.
- Ada pemantauan kualitas air dan udara di sekitar lokasi.
Sanitary landfill membutuhkan biaya pembangunan dan operasional yang lebih tinggi, tetapi jauh lebih aman bagi lingkungan dan warga sekitar.
Masalah Kapasitas
Apa pun sistemnya, TPA memiliki kapasitas terbatas. Banyak TPA di Indonesia sudah mendekati atau melampaui kapasitasnya. Mencari lahan baru untuk TPA semakin sulit karena keterbatasan lahan dan penolakan warga. Karena itu, mengurangi jumlah sampah yang masuk ke TPA menjadi sangat penting.
Peran Plastik di TPA
Plastik di TPA tidak terurai dalam waktu singkat. Plastik memakan ruang, menghambat pemadatan, dan dapat terbawa angin keluar dari area TPA. Jika terbakar, plastik menghasilkan asap beracun. Plastik bernilai yang masuk ke TPA juga berarti kehilangan bahan baku yang sebenarnya dapat didaur ulang.
Pengurangan di Hulu
Cara paling efektif untuk mengurangi beban TPA adalah mengurangi sampah sejak dari sumbernya:
- Mengurangi penggunaan barang sekali pakai.
- Memilah sampah di rumah dan menyetor plastik bernilai.
- Mengompos sisa makanan.
- Mengembangkan bank sampah, TPS3R, dan fasilitas pemulihan material.
- Mendorong tanggung jawab produsen atas kemasan.
Sisa Makanan dan Gas Metana
Sisa makanan yang masuk ke TPA terurai tanpa oksigen dan menghasilkan gas metana, salah satu gas rumah kaca yang kuat. Memisahkan sisa makanan dan mengolahnya menjadi kompos atau pakan maggot dapat mengurangi pembentukan metana di TPA secara signifikan.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah sanitary landfill sepenuhnya aman? Jauh lebih aman dibanding pembuangan terbuka, tetapi tetap memerlukan pengelolaan dan pemantauan yang baik dalam jangka panjang.
Mengapa TPA sering terbakar? Gas metana dan bahan mudah terbakar, terutama saat musim kemarau, dapat memicu kebakaran.
Apa yang terjadi pada TPA yang sudah penuh? TPA perlu ditutup dengan benar dan dipantau, serta dapat direhabilitasi sesuai rencana.
Kesalahan yang Sering Terjadi
Kesalahan umum adalah menganggap masalah sampah selesai setelah diangkut truk, dan mengirim sisa makanan serta plastik bernilai ke TPA padahal dapat diolah atau didaur ulang.
Contoh Pengurangan
Sebuah kabupaten yang TPA-nya hampir penuh menggalakkan pemilahan di sumber. Bank sampah dan TPS3R di setiap kecamatan mengolah sisa makanan menjadi kompos dan menyalurkan plastik bernilai ke mitra daur ulang. Dalam beberapa tahun, volume sampah harian yang masuk ke TPA menurun, sehingga umur TPA dapat diperpanjang sambil menunggu pembangunan fasilitas yang lebih baik.
Peran WasteLab
WasteLab membantu kabupaten dan kota mengurangi beban TPA melalui sistem pengelolaan sampah plastik berbasis data yang menghubungkan pengumpulan di hulu dengan offtaker.
Pemulung di TPA
Di banyak TPA di Indonesia, pemulung bekerja memungut plastik, logam, dan bahan bernilai lain dari tumpukan sampah. Mereka berkontribusi dalam pemulihan bahan, tetapi bekerja dalam kondisi yang berisiko, seperti kendaraan berat, longsor, kebakaran, dan paparan zat berbahaya. Pengelola TPA dan pemerintah daerah dapat meningkatkan keselamatan dengan mengatur area kerja, menyediakan perlengkapan pelindung, dan memberikan pelatihan. Lebih baik lagi, pemilahan di hulu memungkinkan bahan bernilai dipulihkan sebelum sampai ke TPA.
Penutupan dan Rehabilitasi TPA
TPA yang sudah penuh atau tidak lagi memenuhi syarat perlu ditutup dengan benar. Penutupan meliputi pelapisan tanah penutup, pengelolaan lindi dan gas yang masih terbentuk, serta pemantauan jangka panjang. Beberapa bekas TPA di dunia direhabilitasi menjadi taman atau ruang terbuka hijau setelah melalui kajian keamanan. Proses ini membutuhkan waktu dan biaya, sehingga mencegah TPA cepat penuh adalah pilihan yang lebih baik.
Biaya Pengelolaan TPA
Pengelolaan TPA yang baik membutuhkan biaya untuk tanah penutup, alat berat, pengolahan lindi, pemantauan, dan tenaga kerja. Semakin banyak sampah yang masuk, semakin besar biayanya. Setiap kilogram sampah yang dikurangi di hulu berarti penghematan biaya bagi daerah, yang dapat dialihkan untuk program lain.
Transparansi Informasi TPA
Warga berhak mengetahui kondisi TPA di daerahnya, seperti sisa kapasitas, volume sampah harian, dan rencana pengembangan. Informasi ini membantu warga memahami pentingnya pengurangan sampah dan mendukung program pemerintah daerah.
Pertanyaan Tambahan
Apakah boleh membakar sampah sendiri agar tidak ke TPA? Tidak dianjurkan, karena pembakaran terbuka menghasilkan asap berbahaya bagi kesehatan.
Peran Warga Sekitar TPA
Warga yang tinggal di sekitar TPA paling merasakan dampaknya, seperti bau, lalat, dan risiko pencemaran air. Pemerintah daerah perlu melibatkan warga dalam pengawasan, menyediakan saluran pengaduan, dan memberikan informasi tentang upaya perbaikan. Keterlibatan warga membantu menemukan masalah lebih awal dan membangun kepercayaan.
Langkah Berikutnya
Cari tahu ke TPA mana sampah lingkungan Anda diangkut.
Penutup
Cara sampah ditangani di TPA sangat menentukan dampaknya, tetapi solusi terbaik adalah mengurangi sampah yang masuk ke TPA sejak dari hulu. Pilah, kompos, dan setor. Cek kategori plastik di halaman Harga Daur Ulang WasteLab.