Pasar Tradisional dan Sampah Plastik: Tantangan dan Peluang

Jantung Ekonomi, Sumber Sampah
Pasar tradisional adalah jantung ekonomi rakyat. Di sinilah petani, nelayan, pedagang kecil, dan pembeli bertemu setiap hari. Namun pasar juga merupakan salah satu penghasil sampah terbesar di kota. Sisa sayur, kulit buah, sisa ikan, kardus, karung, dan tentu saja plastik menumpuk setiap hari, terutama setelah jam ramai pagi hari.
Sampah plastik di pasar datang dalam berbagai bentuk: kantong kresek yang tak terhitung jumlahnya, plastik pembungkus sayur dan bumbu, plastik es, wadah styrofoam ikan, karung plastik, tali rafia, dan botol minuman pedagang. Jika tidak dikelola, sampah ini menumpuk di sudut pasar, menyumbat saluran, dan menimbulkan bau yang membuat pembeli enggan datang.
Karakter Sampah Pasar
Sampah pasar memiliki karakter yang berbeda dari sampah rumah tangga. Porsi sampah organiknya sangat besar, sering menjadi bagian terbesar dari total sampah. Sampah plastiknya sebagian besar berupa plastik lembaran tipis yang mudah kotor karena bercampur sisa sayur, air, dan lumpur. Volume harian juga sangat tinggi dan terpusat pada jam-jam tertentu.
Karakter ini membuat pemilahan di sumber menjadi sangat penting. Jika plastik sudah bercampur dengan sampah organik basah, hampir tidak mungkin dipisahkan kembali dalam kondisi bernilai. Sebaliknya, jika dipilah sejak di lapak pedagang, sampah organik bisa dikomposkan atau diolah menjadi pakan maggot, dan plastiknya tetap relatif bersih.
Tantangan yang Dihadapi
Ada beberapa tantangan yang membuat pengelolaan sampah pasar sulit:
- Pedagang sibuk melayani pembeli sehingga tidak sempat memilah.
- Fasilitas tempat sampah terpilah minim atau rusak.
- Pengangkutan sampah tidak rutin sehingga sampah menumpuk.
- Tidak ada kejelasan siapa yang bertanggung jawab atas sampah di lorong dan area umum.
- Kantong kresek dibagikan secara otomatis kepada pembeli.
- Belum ada mitra yang rutin menyerap plastik terpilah dari pasar.
Peran Pedagang
Pedagang adalah titik awal perubahan. Langkah sederhana yang bisa dilakukan setiap pedagang antara lain menyediakan dua wadah di lapak, satu untuk sampah organik dan satu untuk plastik serta kemasan. Pedagang juga bisa menanyakan kepada pembeli apakah membutuhkan kantong, atau menawarkan untuk menggabungkan belanjaan dalam satu kantong. Botol dan gelas plastik bekas minum pedagang sendiri bisa dikumpulkan di wadah plastik.
Pedagang yang menjual barang dalam kemasan, seperti toko kelontong di dalam pasar, juga menghasilkan banyak kardus dan plastik pembungkus dari barang kiriman distributor. Plastik pembungkus ini umumnya bersih dan bisa dikumpulkan dengan mudah.
Peran Pengelola Pasar
Pengelola pasar memegang peran kunci dalam membangun sistem. Beberapa hal yang bisa dilakukan:
- Menyediakan tempat sampah terpilah di setiap blok atau lorong.
- Menetapkan jadwal pengumpulan sampah dari lapak, misalnya setelah jam ramai pagi dan sore.
- Menyediakan titik pengumpulan sementara yang beratap untuk plastik terpilah.
- Menunjuk petugas yang bertanggung jawab atas pemilahan lanjutan.
- Bekerja sama dengan pengolah sampah organik, seperti komposter atau peternak maggot.
- Bekerja sama dengan mitra daur ulang untuk menyerap plastik terpilah secara rutin.
Peran Pembeli
Pembeli juga punya andil. Membawa tas belanja sendiri, membawa wadah untuk ikan atau daging, dan menolak kantong tambahan untuk barang yang sedikit dapat mengurangi volume kresek secara signifikan. Kebiasaan ini paling mudah dimulai dari pasar langganan, di mana pembeli dan pedagang sudah saling mengenal.
Peluang dari Sampah Pasar
Di balik tantangan, sampah pasar menyimpan peluang. Sampah organik yang terpilah bisa menjadi kompos untuk petani sekitar atau pakan maggot yang bernilai jual. Plastik terpilah seperti botol, gelas, plastik pembungkus bersih, karung, dan jeriken bisa dijual ke mitra daur ulang. Kardus memiliki pasar sendiri yang cukup stabil.
Pendapatan dari penjualan bahan terpilah bisa membantu membiayai operasional kebersihan pasar, sehingga sistem menjadi lebih mandiri. Pasar yang bersih juga menarik lebih banyak pembeli, yang pada akhirnya menguntungkan pedagang.
Langkah Memulai di Satu Blok
Mengubah seluruh pasar sekaligus terlalu berat. Lebih realistis memulai dari satu blok percontohan, misalnya blok sayur atau blok kelontong. Libatkan beberapa pedagang yang bersedia menjadi contoh, sediakan wadah terpilah, tetapkan jadwal pengambilan, dan catat volume yang terkumpul. Setelah beberapa minggu, tunjukkan hasilnya kepada pedagang lain: blok yang lebih bersih, saluran yang tidak tersumbat, dan pemasukan dari penjualan plastik. Bukti nyata seperti ini jauh lebih meyakinkan daripada imbauan.
Peran WasteLab
WasteLab dapat bekerja sama dengan pengelola pasar dan pemerintah daerah untuk merancang sistem pengelolaan plastik di pasar, mulai dari asesmen jenis dan volume sampah, penyiapan titik kumpul, hingga penjemputan rutin dan pencatatan data. Data volume per blok membantu pengelola pasar mengetahui area mana yang membutuhkan perhatian lebih dan mengukur kemajuan program dari waktu ke waktu.
Contoh Pembagian Peran di Pasar
Agar sistem berjalan, peran setiap pihak perlu dibagi dengan jelas. Pedagang memilah sampah di lapak masing-masing dan menyerahkannya pada jadwal pengambilan. Petugas kebersihan pasar mengambil sampah terpilah dari setiap blok dan membawanya ke titik kumpul sementara. Petugas sortir di titik kumpul melakukan pemilahan lanjutan untuk plastik bernilai, kardus, dan sampah organik. Pengelola pasar mencatat volume, mengatur kerja sama dengan pembeli dan pengolah organik, serta melaporkan hasilnya kepada pedagang. Pemerintah daerah mendukung dengan kebijakan, fasilitas, dan pengangkutan residu.
Ketika setiap pihak tahu tugasnya, sampah tidak lagi menjadi urusan yang saling dilempar.
Pertanyaan yang Sering Diajukan
Apakah plastik pembungkus sayur yang basah masih bisa dijual? Jika hanya basah oleh air bersih, plastik bisa dijemur hingga kering. Jika bercampur sisa sayur busuk atau darah ikan, sebaiknya dikategorikan sebagai residu.
Bagaimana dengan styrofoam kotak ikan? Styrofoam ikan biasanya bisa dipakai ulang oleh pedagang beberapa kali. Setelah rusak, pisahkan dari plastik bernilai.
Apakah pedagang harus membayar iuran tambahan? Tergantung kesepakatan. Di banyak tempat, hasil penjualan bahan terpilah dapat membantu menekan iuran kebersihan.
Jaga Kebersihan Area Titik Kumpul
Titik kumpul sementara di pasar harus dijaga agar tidak berubah menjadi tumpukan sampah baru. Pastikan ada atap, lantai yang mudah dibersihkan, dan jadwal pengangkutan yang rutin.
Titik kumpul yang bersih dan tertata juga menunjukkan kepada pedagang bahwa sampah yang mereka pilah benar-benar ditangani dengan serius, sehingga mereka lebih termotivasi untuk terus memilah setiap hari tanpa harus diingatkan berulang kali oleh petugas.
Penutup
Pasar tradisional tidak harus identik dengan tumpukan sampah dan bau menyengat. Dengan pemilahan di lapak, fasilitas yang memadai, dan mitra penyaluran yang jelas, pasar bisa menjadi contoh pengelolaan sampah yang baik di tengah kota. Jika Anda pengelola pasar atau pemerintah daerah yang ingin memulai, hubungi tim WasteLab melalui formulir kemitraan di website kami.